Lho, kuliner kok di toko? Saya sendiri baru menyadari yang saya sangka berpredikat restoran, dari dulu (ternyata) menyandang gelar "toko". Bernostalgia , di suatu Sabtu , malam Minggu hampir sebulan yang lalu, saya sengaja makan malam di Toko Oen Malang.
Sangat mudah mendapati toko Oen di ujung jalan Kayutangan, bangunannya sesuai dengan ingatan saya. Warna hijau tua, jendela besar melengkung nyaris setengah lingkaran, dan yang menakjubkan, gorden putih menutup setengah tinggi jendela , masih di pertahankan. Di dalam, lemari kaca, bercat kuning, stoples- stoples lama , wah, rasanya kembali ke masa lalu. Apalagi saat saya datang separuh ruangan diisi nonik-nonik rambutnya pirang asli, organ tunggal lagu- lagu keroncongan ABG (Angkatan Babe Gue). Pas banget.

Penyempurnaan kesan jadul diperkuat tampilan buku menu yang tampil jadul banget, menu tertulis dalam dua bahasa , bahasa Belanda dan bahasa Indonesia. Saya sih kalau ngikuti menu masa kecil ya ice cream, namun acara pertemuan ilmiah yang padat dari pagi tak memberi saya kesempatan mengisi lambung, sangat laparlah yauw. Saya pilih steak, dengan minumannya, teman yang perutnya tak sekosong saya memilih menu favorit bu de saya : huzaren zla..! Hu, pengen juga, tapi nggak muat donk.

Sambil menunggu hidangan saya "memutari" bangunan toko Oen, memfoto dari luar, dalam, semua tulisan, gambar, stoples. Teman- teman saya tertawa , Nury shooting! Saat keliling itu, masuk sekitar 20 ABG betulan, rupanya ada yang Ulang Tahun. Pesannya: semua banana split ! Hik , pengen juga. Organ tunggal mengiringi penyanyi manis menyanyikan lagu
special request yang ulang tahun. Menunggu hidangan yang agak lama, saya melihat gerai buku, souvenir, rupanya di pakai kantoran juga oleh Dinas Pariwisata, saya membeli buku
Malang , telusuri dengan hati.
Ah,
steak saya muncul dengan anggun , pada
plate khusus agar tetap panas, sayur pada piring terpisah,. Rasa
steak jadul yang sungguh mak nyus. Tampilan utuh, ternyata di lunakkan seperti resep eyang , di tusuk- tusuk untuk

mematahkan serat,sehingga mudah di potong (pantesan lama). Iyalah, tamunya selain para nonik , kan omanya juga, yang pastinya memilih steak yang super empuk. Harga steak sekitar Rp 45.000,-;Dengan minum, rata-rata kami per orang Rp 70.000,-.Saya menikmati pelan- pelan , sehingga baru sadar, saat keluar, lho, ternyata , ada yang menunggu , belum kebagian tempat !
Selain steak, aneka salad jaman dulu dan ice cream, toko Oen terkenal dengan roti resep jadul .Seorang teman dari Menado, membeli roti yang memang
hand made untuk oleh-oleh . Empuk nya lain!.
Wikimuers, ke Malang? Jangan lupa ke masa lampau di Toko Oen.

(
Pak Phil, ini pelunasan hutang ya)
Keterangan Foto (urutan dari atas ke bawah) :
•1. Toko Oen ternyata berdiri sejak ( jauh) sebelum saya lahir
•2. Jendela yang melengkung, dengan gorden , tampak nonik asli.
•3. Nury, di kursi lama, organ tunggal dan penyanyi pada latar belakang

•4. Stoles jadul, dulu isinya antara lain hopyes.
•5. Steak saya
•6. Lemari, catnya pun seperti dulu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar