Halaman

Senin, 22 November 2010

Malang Kota Ruko

photo by rumah dan properti
Kota Malang tidaklah se-asri dulu, kini cuacanya juga yidak menentu. Sebutan kota dingin bagi Malang mungkin saat ini tidak berlaku lagi. Beberapa tanah kosong dan pepohonan yang tidak difungsikan dulunya kini sudah berdiri bangunan serba guna yang saat ini biasa disebut Ruko (rumah toko). Ditambah lagi berdirinya mal-mal yang lokasinya tidak memguntungkan, yaitu terletak di daerah instansi pendidikan atau tempat penting lainnya. hal ini sempat menjadi polemik oleh mahasiswa sekitar. aktivitas belajar yang terganggu rupanya tidak digubris oleh pemerintah setempat. Dengan adanya dukungan dari pemerintah ya tetap saja mal itu diteruskan pembangunannya. 
Seiring berdirinya mal-mal yang lain, berdiri pula ruko-ruko di kota malang. Mulanya hanya sedikit yang berdiri, namun lama-kelamaan semakin tak terhitung keberadaannya. Hampir di setiap sudut kota malang terdapat ruko, baik yang sudah jadi maupun yang sedang dibangun. Bayangkan saja di daerah Dinoyo berdiri sekitar 50an ruko. hal ini sangat menguntungkan bagi pemiliknya namun tidak terlalu besar bagi masyarakat di sekitarnya. Dengan adanya fakta tersebut cuaca di Kota Malang menjadi semakin panas dan jalanan menjadi macet. Pembangunan ruko dipercepat dan dibuat sebagus mungkin serta kebanyakan bertingkat dua. Hal ini tentu saja dibuat untuk menarik perhatian pembeli, masih dibangun saja sudah bertuliskan dijual?!. namanya pun juga tidak kalah dengan perumahan-perumahan, misalnya saja ruko dinoyo megah, dinoyo indah, dinoyo corner, dll. Umumnya pembelian ruko ini digunakan sebagai resto, cafe, distro, butik, salon n spa, computer sale, counter hp, supermarket, dll. letaknya yang strategis membuat pembeli tertarik untuk mengembangkan usahanya lebih luas lagi dengan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Keuntungan juga didapat oleh pemerintah dengan penarikan pajak kepemilikan usaha atau bangunan, dari situlah devisa kota Malang meningkat. Terang saja peraturan pemerintah tentang bangunan ini belum ada realisasinyadan sepertinya tidak dibatasi berapa jumlah pembangunan ruko di kota Malang. 
Mungkin juga kalau dipikir lebih jauh lagi, kota Malang tidak akan berkembang (maju) bila tanpa ada pembangunan untuk perubahan. Tetapi tidak dengan cara pembangunan ruko terus-menerus sampai saat ini dan pihak pemerintah saya pikir perlu membatasinya. Masih banyak cara lain yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan kota kita tercinta ini. Karena dengan adanya cuaca yang semakin meingkat dan semakin banyaknya polusi mebuat masyarakat semakin resah pula. Kini sebutan kota Malang tidak hanya sebagai kota bunga, kota hijau, kota pendidikan, dan bertambah satu lagi yaitu Malang Kota Ruko. Sebagai warga yang baik, marilah kita tetapmenjga kebersihan dan hijaukan kembali kota kebanggaan ini. Dan terima kasih kepada orang-orang yang telah melakukan penanaman pohon untuk kota Malang.

Senin, 08 November 2010

Kuliner Jadul di Toko Oen - Malang

Senin, 01-09-2008 18:25:20 oleh: Nury Nusdwinuringtyas
Kanal: Wisata
 
Lho, kuliner kok di toko? Saya sendiri baru menyadari yang saya sangka berpredikat restoran, dari dulu (ternyata) menyandang gelar "toko". Bernostalgia , di suatu Sabtu , malam Minggu hampir sebulan yang lalu, saya sengaja makan malam di Toko Oen Malang.

Sangat mudah mendapati toko Oen di ujung jalan Kayutangan, bangunannya sesuai dengan ingatan saya. Warna hijau tua, jendela besar melengkung nyaris setengah lingkaran, dan yang menakjubkan, gorden putih menutup setengah tinggi jendela , masih di pertahankan. Di dalam, lemari kaca, bercat kuning, stoples- stoples lama , wah, rasanya kembali ke masa lalu. Apalagi saat saya datang separuh ruangan diisi nonik-nonik rambutnya pirang asli, organ tunggal lagu- lagu keroncongan ABG (Angkatan Babe Gue). Pas banget.
Penyempurnaan kesan jadul diperkuat tampilan buku menu yang tampil jadul banget, menu tertulis dalam dua bahasa , bahasa Belanda dan bahasa Indonesia. Saya sih kalau ngikuti menu masa kecil ya ice cream, namun acara pertemuan ilmiah yang padat dari pagi tak memberi saya kesempatan mengisi lambung, sangat laparlah yauw. Saya pilih steak, dengan minumannya, teman yang perutnya tak sekosong saya memilih menu favorit bu de saya : huzaren zla..! Hu, pengen juga, tapi nggak muat donk.
Sambil menunggu hidangan saya "memutari" bangunan toko Oen, memfoto dari luar, dalam, semua tulisan, gambar, stoples. Teman- teman saya tertawa , Nury shooting! Saat keliling itu, masuk sekitar 20 ABG betulan, rupanya ada yang Ulang Tahun. Pesannya: semua banana split ! Hik , pengen juga. Organ tunggal mengiringi penyanyi manis menyanyikan lagu special request yang ulang tahun. Menunggu hidangan yang agak lama, saya melihat gerai buku, souvenir, rupanya di pakai kantoran juga oleh Dinas Pariwisata, saya membeli buku Malang , telusuri dengan hati.
Ah, steak saya muncul dengan anggun , pada plate khusus agar tetap panas, sayur pada piring terpisah,. Rasa steak jadul yang sungguh mak nyus. Tampilan utuh, ternyata di lunakkan seperti resep eyang , di tusuk- tusuk untuk mematahkan serat,sehingga mudah di potong (pantesan lama). Iyalah, tamunya selain para nonik , kan omanya juga, yang pastinya memilih steak yang super empuk. Harga steak sekitar Rp 45.000,-;Dengan minum, rata-rata kami per orang Rp 70.000,-.Saya menikmati pelan- pelan , sehingga baru sadar, saat keluar, lho, ternyata , ada yang menunggu , belum kebagian tempat !
Selain steak, aneka salad jaman dulu dan ice cream, toko Oen terkenal dengan roti resep jadul .Seorang teman dari Menado, membeli roti yang memang hand made untuk oleh-oleh . Empuk nya lain!.
Wikimuers, ke Malang? Jangan lupa ke masa lampau di Toko Oen.
(Pak Phil, ini pelunasan hutang ya)


Keterangan Foto (urutan dari atas ke bawah) :
•1. Toko Oen ternyata berdiri sejak ( jauh) sebelum saya lahir
•2. Jendela yang melengkung, dengan gorden , tampak nonik asli.
•3. Nury, di kursi lama, organ tunggal dan penyanyi pada latar belakang
•4. Stoles jadul, dulu isinya antara lain hopyes.
•5. Steak saya
•6. Lemari, catnya pun seperti dulu

Kamis, 04 November 2010

Segara Anakan

Tersimpan Di Dalam Pulau Sempu
foto by : Erik Marangga
Mungkin sebagian dari kita belum pernah mengetahui apa itu segara anakan. Itu dikarenakan letaknya yang tersembunyi dan belum banyak terjamah oleh masyarakat. Disebelah selatan arak Kota Malang dan melewati Kepanjen menuju Pantai Sendang. Di pantai inilah kita bisa menemui perahu-perahu kecil, perahu bermotor dan kapal penumpang. Kapal penumpang yang dibandrol dengan harga Rp.40ribu ini akan mengantarkan kita menuju Pulau Sempu, dengan kapasitas maksimal 15 orang. Keindahan Pulau Sempu adalah sisi lain yang bisa kita nikmati selain berburu ikan di Pantai Sendang Biru. Dan selain itu yang tidak kalah menariknya kita bisa menemukan telaga yang sangat jernih. Ya, namanya segara Anakan yang tersimpan di dalam Pulau Sempu. Sekelilingnya terdapat batu karang tinggi yang membatasi dengan laut lepas. Selain berenang bagi anda yang mempunyai hobi snorkling, tempat ini sangat cocok karena dengan leluasa kita dapat menikmati keindahan terumbu karang dan pemandangan bawah laut lainnya. Suasana yang masih asli, unik, dan jauh dari kebisingan membuat kiata betah berlama-lama di segara ini. Hanya jangan harap ada fasilitas penginapan disini.